Rabu, 28 September 2016

Kau, Ah Kau!




Aku mencintaiMu dalam kesuyian. Dalam ruang yang tak ada siapapun selain Engkau dan aku.

Aku mencintaiMu dalam lamat-lamat sepertiga malam. Dalam doa yang belum sempat ku rapal.

Aku mendambaMu dalam separuh kantuk. Dalam mimpi sebuah pertemuan yang terlanjur menghanyutkan tidurku.

Aku mencintaiMu pada secarik kertas. Pada larik-larik sajak ini yang tak lekas kau baca.

Aku mencintaiMu dalam bait-bait puisi. Dalam gundukan rindu yang paling tinggi.

Kau menghias sukmaku dengan warna, yang tak seorangpun mampu menorehkan tintanya.

Kau memiliki aroma sebagai pertanda tatkala malam mulai sirna dan pagi memberiku kesempatan mencintaMu sekali lagi.

Kau, ah kau! Aku kalut mencintamu. Kau sibuk menghapus pilu!

Tahukah kau aku mencintaMu dalam senyap? Dalam rindu yang bahkan belum sempat terucap. Aku kian gagap, perasaan ini kian menguap. [dov]

Purnabhakti, 13 Mei 23:54.

Selasa, 02 Februari 2016

Tulisan Kesukaan Mbak Dara

"Sudahi saja jika kau tak lagi berkenan. Teruskan jika kau memang ingin."

Tubuhmu di hadapan, namun percakapan tak juga kau selesaikan. Katamu, sudahi saja kan kalau tak lagi berkenan?

Matamu ku tatap lekat, namun tak sepenggal katapun kau ucapkan. Katamu, teruskan saja kan jika kau memang ingin?

Kau ini bagaimana? Aku ada kau malah berguru pada kesunyian. Aku tak ada, kau mulai agungkan makna keberadaan.

Jadi, aku ini apa? Pemakaman bagi bangkai kerinduan tanpa nisan? Palung kenangan di dalam lautan?

Ah, kamu! Kau bilang layarmu telah berlabuh pada dermaga hatiku. Malah kau pergi menyelami lautan penuh mimpi masa kecilmu. Aku tak menuju kesana, sayangku!

Jadi dik, beginilah kiranya merindu dan mencinta. Hanya perihal menunggu dan belajar rela.

Tentang langit dan laut yang tak mungkin bersatu. Hanya berdampingan.

Menjadikan mereka sepasang keindahan di kelopak kemesraan. Sekejap kemudian hilang dari pandangan.

[dov & dps]

Catatan: Tulisan ini saya buat beberapa hari setelah membaca kalimat yang Dara buat malam itu; "Sudahi saja jika kau tak lagi berkenan". Suwun. 

Senin, 03 Agustus 2015

Surat Terbuka Dariku Untukmu 2

Surat Kedua

Teruntuk Adi Gunawan terkasih. 

Aku hanya mencoba jujur.

Kalau kamu tanya apa kabarku, aku tidak akan menjawabnya "baik".  Karena bukan itu keadaan yang sebenarnya. Kamu tahu, Di aku tidak baik-baik saja dengan keputusanmu ini. Tujuh bulan, banyak yang kita lalui bersama. Semua masalah, kebahagiaan dan Cinta. Ingatkah masalah terbesar yang pernah kita miliki dulu? Saat aku menemukan satu fakta yang membuatku terkejut juga hancur, membuatmu tak percaya karena kamu tidak menyangka aku akan mengetahuinya. Selama apa kita menyelesaikannya? Hanya satu malam saja, bukan? Satu malam yang penuh dengan tangisku, satu malam yang membuat mata hatiku terbuka, bahwa kenyataan itu tidak perlu menjadi alasan untukku meninggalkanmu. Aku tahu saat itu kamu sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi, mungkin pikirmu aku akan dengan mudah meninggalkanmu? Atau mungkin hal ini bisa ku jadikan alasan untuk pergi darimu? Sayangnya tak terbesit sekalipun di benakku untuk meninggalkanmu. Tidak, tidak semudah itu.

Masih ingat saat kita sama-sama tahu bahwa banyak orang terdekat kita yang ternyata menentang keras hubungan ini? Saat aku tak mendapatkan restu bahkan dari teman terdekatku. Apa itu menjadi penghalang bagiku untuk tetap bertahan denganmu? Apa aku menyerah karena hal itu? Aku mencoba menutup telinga tentang hal buruk yang mungkin beberapa orang katakan tentang kita. Biarlah, itu hak mereka. Bukannya aku tak mau mendengar perkataan mereka, tapi hubungan ini kan punyaku dan kamu. Kita yang menjalani, bukan mereka. Mereka tidak tahu bagaimana sulitnya berjuang, membangun dan mempertahankan hubungan ini yang meskipun akhhirnya harus kandas seperti ini. Sekali lagi, itu tidak menjadi alasanku untuk meninggalkanmu dan menyerah dengan hubungan ini. Aku tidak akan meludahi begitu saja usahaku membangun hubungan ini juga keputusanku untuk memilihmu menjadi pendampingku. Setiapkali aku merasa menyerah denganmu, saat itu juga aku ingat bagaimana aku berjuang untuk membangun hubungan ini, bagaimana caraku pelan-pelan menumbuhkan perasaan cinta untukmu. Setiapkali aku menyerah, aku ingat mengapa aku memulai. Kemudian aku bangkit, aku tidak ingin menyerah begitusaja denganmu.

 Di, percayalah tidak ada masalah yang terlalu besar kalau kita mau menyelesaikan nya dengan komunikasi, bertukar pikiran, mencurahkan perasaan. Kamu tahu kan Di, aku selalu mau mendengar, aku selalu mengajakmu berkomunikasi dengan baik, aku mau belajar memperbaiki. Aku tidak lari dari masalah, aku berusaha memperbaiki. Itulah usahaku untukmu, untuk hubungan kita. Tapi kenapa kemarin kamu lebih memilih mengambil keputusan sendiri? 

Ini bukan perkara sedihku. Kamu tidak perlu membicarakan kesedihanku, seakan kamu tahu apa yang kurasa, apa yang kupikirkan. Biarlah ini menjadi urusanku dengan Tuhan. Adi, diam mu tidak akan menyelesaikan masalah, juga menjawab beribu pertanyaan di benakku yang salahsatunya; apakah benar ini alasan yang sebenarnya? Kalau memang bukan, kumohon katakan apa yang sebenarnya terjadi. Ini bukan perkara sedihku, tapi ini tentang bagaimana kita tetap bisa bertahan di saat tersulit, bahwa kita bisa buktikan kepada Tuhan kalau aku layak untukmu, begitu juga denganmu. Tapi kurasa, kekhawatiran terbesarku sudah terjadi. Saat kita ada di masa sulit tapi kamu lebih memilih diam, tidak menjelaskannya kepadaku, dan akhirnya pergi. Aku bukan pembaca pikiran, dalam sebuah hubungan perlu ada komunikasi, bukan? Kalau memang kamu tetap bulat dengan keputusanmu, baiklah. Aku tidak akan memaksa, setidaknya aku sudah mencoba jujur dengan apa yang aku rasakan. Aku tidak membohongi diriku sendiri, pun aku tidak malu mengakui bahwa semuanya masih tetap sama. Kamu, dihatiku.


Setelah kamu pergi, tidak ada masalah yang terlalu besar bagiku selain kehilanganmu, sekarang.


Kita.

Aku tahu, di. Hari ini akan datang. Hari dimana kamu akan pergi dariku, dan aku harus belajar merelakan. Tapi mungkin ini tak semenyakitkan saat pertamakali kamu meminta untuk mengakhiri hubungan ini. Iya, aku tahu, suatu saat kamu akan pergi lagi mungkin dengan alasan yang sama. Benar saja. Aku masih ingat betapa hancurnya aku saat mendengar kata kata itu darimu. Bahwa katamu, kamu jenuh, rasa sayangmu sudah berkurang dan kamu butuh waktu sendiri. Kamu mau tahu satu fakta? Kamu orang ketiga yang memilih meninggalkan aku dengan alasan yang sama saat itu; "butuh waktu sendiri". Kupikir, kamu akan memberikan alasan lain yang lebih masuk akal atau lebih bisa kuterima dibandingkan alasan-alasan tadi. Tapi tak apa, aku tidak ingin memaksa seseorang untuk tetap tinggal bersamaku, ada hidupku kalau orang itu tidak mau. Sekarang, tidak ada lagi kamu, tak ada lagi pesan singkat darimu, tak ada lagi selamat pagimu yang dengan mudahnya membuat hariku indah menambah semangat membuatku merasa kamu bersamaku pagi itu, tak akan lagi ku terima ucapan selamat malam yang selalu berhasil menerbitkan senyum di bibirku, tak ada lagi pertengkaran kecil karena kesalahpahaman, tak ada lagi pertemuan yang berakhir dengan pelukan. Sekarang hanya ada aku, memeluk semua kenangan di dada, memikul ingatan tentang kita yang dulu pernah ada, tentang cinta yang sederhana. Aku dan kamu, yang dulu pernah menjadi kita.

Merengkuh Anugerah-Nya.

 Ingatkah, di setiap malam setelah kita bertemu, kita kadang menyempatkan untuk sekedar mengobrol beberapa menit atau bahkan jam di dalam mobilmu. Di tempat yang selalu sama. Hanya ada aku dan kamu. Sebelum aku keluar dari mobilmu, kita selalu berbagi peluk. Ya Tuhan, aku selalu suka momen itu. Saat kamu lingarkan tanganmu di punggungku dan menyandarkan kepalamu di pundakku. Aku selalu suka memejamkan mata beberapa detik saat aku peluk kamu, karena akan lebih terasa indah saat aku terpejam sambil mengucap syukur. Ya tuhan, terimakasih kau izinkan aku merengkuh anugerah-Mu sedekat ini. Kadang saat terpejam dan kamu peluk aku, aku ingin lebih lama merasakan dekap hangat tubuhmu, ingin rasanya ku simpan itu dalam genggamanku dan kubawa sampai tidurku. Bahagiaku sederhana, saat bisa merengkuh anugerah-Nya.
 Aku selalu suka saat kita saling mencurahkan isi hati, membahas apa yang perlu diubah dari kita, hal-hal apa saja yang mengganggu satu sama lain, kamu boleh menegurku kalau aku berbuat salah begitu juga denganmu. Aku hanya mencoba terbuka dan menjalani hubungan sebagai orang dewasa denganmu. Pikirku, dengan membiasakan hal itu, akan membuat kita sama sama terbiasa terbuka dengan apa yang kita rasakan. Meringankan beban dengan cara yang sederhana, bercerita. Aku bangga kamu sudah mau terbuka denganku tentang beberapa hal, meskipun kutahu ada beberapa hal yang mungkin kamu simpan sendiri. Ah, aku harap aku bisa membaca pikiranmu, punya kamera di kepalamu jadi aku bisa selalu tahu apa yang terjadi. Tapi aku sadar, aku tidak punya itu semua. Yang aku punya hanya kepercayaan terhadapmu, bahwa kamu akan menjaga diri juga perasaanmu untukku, atau barangkali doa yang kutitipkan pada Tuhan untuk selalu menjagamu. Maaf, aku menulis ini seakan kamu masih denganku.

Aku sadar betul semua orang yang ada di hidupku hanya sementara. Kamu, titipan dari tuhan untukku. Masih jelas tergambar di pikiranku bagaimana dulu setiap malam aku selalu berdoa kepada Tuhan untuk mendatangkan laki-laki yang tepat untukku, yang baik, yang apapun asalkan Tuhan menuntunku. Kemudian datanglah kamu, aku tidak perlu berpikir lama. Aku tahu, kamulah anugerah itu, jawaban dari setiap doaku. Sebagai manusia sudah selayaknya kita menjaga dan mensyukuri anugerah yang Tuhan berikan, begitupun denganku. Aku yang sudah Allah hadiahkan seseorang sebagai pengisi hatiku, pendampingku, yaitu kamu. Aku tidak perlu menceritakan panjang lebar bagaimana caraku mensyukuri keberadaanmu. Cukup aku dan Tuhan yang tahu Ia yang mendengar doaku.

Sekarang kamu sudah pergi, kamu memilih pergi. Mungkin sekarang aku sudah harus mulai mengganti doaku dengan “Tuhan ajarkan aku cara mengikhlaskan” atau “Tuhan, ajarkan aku cara merelakan”. Lagipula, bagaimana lagi caraku membuatmu bertahan? Kalau kamu lebih memilih meninggalkan. Meninggalkan aku sendiri, tanpa kamu, tanpa ada lagi kita dan semua yang telah kita bangun bersama.  Maaf kalau aku egois mencintaimu, maaf kalau aku akan sulit melupakanmu, maaf kalau ini akan terasa sulit untukku karena aku tahu tidak mudah untuk memulainya, jadi wajar bukan, kalau aku sulit untuk mengakhirinya? Maaf kalau semuanya masih tentang kamu, maaf kalau sesekali mungkin aku akan merindukan kamu.


Semoga perpisahan kita tidak sia-sia ya, kalau selama bersamaku kamu samasekali tidak bahagia, maka akan kulanjutkan mencintaimu dengan berdoa; berbahagialah. 


Minggu, 02 Agustus 2015

Surat Terbuka Dariku Untukmu

Surat Pertama.
Teruntuk, Adi Gunawan yang baik. 

Hai, Di. Satu minggu sejak kamu putuskan untuk pergi dariku. Iya, aku tahu baru satu minggu, tapi entah mengapa semua seakan terasa jauh. Kamu, kenangan tentang kita, dan hubungan ini yang jelas sudah ujungnya. Kamu tidak perlu bingung tentang apa yang akan kutulis di surat ini. Kamu tahu kan aku selalu suka menulis? Setidaknya dengan menulis, aku perlahan menyembuhkan batinku.

Masihkah ada kamu?
Di, masih ingat saat dulu kita hanya sebatas teman? Kamu dan aku ada di kelas yang sama selama dua tahun. Menyenangkan bukan mengingat masa SMA? Membayangkannya saja membuat senyumku merekah. Ingatkah saat bahagia kita masih sangat sederhana? Menunggu hingga bel istirahat tiba, kemudian kita berhamburan menuju kantin. Duduk di meja yang sama bersama teman-teman, membeli jajanan yang padahal kita tahu tak menyehatkan tapi tetap kita makan. Oh, atau, saat guru tak ada dan kita berkumpul didepan kelas bercanda dengan teman-teman? Menertawakan lelucon konyol yang dibuat Nurdin, Rizal, Bayu atau Yanwar? Kamu ada di bangkumu, memerhatikan sekitar kelas, kadang tawamu pecah. Ah, aku selalu suka tawamu yang khas itu. Sampai kelulusan, kita masih sekedar teman bukan? Aku tidak pernah menyangka awalnya akan jadi seperti ini, aku akan mencintai kamu sedalam ini dan kita akan ada di suatu hubungan yang buatku instimewa. Membuatku bangga, mengajarkanku banyak hal. Dari bahagia hingga rasa sakitnya.

Di, aku masih ingat bagaimana setelah kuliah kita dan teman teman yang lain kekurangan waktu untuk bertemu. Menanti pertemuan sudah tak semudah saat bell istirahat berbunyi, atau saat bell pulang kita pergi ke La Caffa untuk memesan segelas kopi dan mie unyu yang membuat perut perih! Sederhana ya, sangat berharga, tapi sekarang hanya bisa kita kenang.

Sama seperti hubungan kita, Di. Kita memulainya dengan sederhana, bukan? Saat ku kumpulkan keberanian untuk mengajakmu berkomiten setelah aku menolak permintaanmu untuk kita berpacaran. Berharga, karena aku menjalaninya dengan proses. Bahkan rasa sayangku kepadamu yang tumbuh perlahan seiring berjalannya waktu dan hubungan kita. Aku tidak langsung mencintaimu, di. Aku tidak bisa, tapi aku akan belajar mencintai kamu. Aku yakin aku bisa. Kubuktikan bukan, sekarang? Aku menjalani hubungan ini denganmu, kubiarkan perlahan caramu mencintaiku membuat aku juga mencintaimu, aku perlahan belajar menghargai kamu, usahamu, sampai pada akhirnya saat itu aku tahu kalau cinta sudah bersemi di hatiku. Indah di, saat kamu merawat tanaman, dari bibit terus kau sirami setiap hari, kau rawat, kau biarkan sinar matahari membuatnya tumbuh, perlahan kamu melihat pucuk pertama, dengan sabar menanti hingga menjadi sebatang pohon kecil yang kokoh hinga akhirnya bunga cinta itu tumbuh. Seperti itulah caraku belajar mencintaimu. Mungkin kau tidak tahu bagaimana indahnya menanam benih cinta, menyirami hati dengan kebaikan, meminta tuhan untuk menuntunku menjadi baik untuk diriku sehingga aku bisa jadi baik untukmu dan akhirnya bunga cinta itu tumbuh, mekar, indah di taman kalbuku.
Aku tahu bagaimana indahnya, oleh karena itu aku bersyukur kamu ada dihidupku.

Kita memulainya dengan mudah dan sederhana.

Aku ingat betul bagaimana kita memulai hubungan ini dengan mudah. Saat komunikasi yang kita jalani masih baik, tidak banyak hambatan, kita sama sama meluangkan waktu untuk satu sama lain. Entah untuk sekedar saling menghubungi atau sebuah pertemuan.
9 Desember, 2014. Kencan pertama kita setelah komitmen, bukan? Kamu yang mengingatkanku pada tanggal itu. Aku dulu masih terlalu cuek bahkan untuk mengingat sebuah tanggal spesial. Bagiku dulu, tidak penting sebuah tanggal dalam sebuah hubungan, yang kutahu, saat bertambah bulan, saat itu juga usia hubungan kita bertambah. Sampai pada akhirnya obrolan kita di telepon mengantarkan pada topik itu, tanggal spesial. Aku masih ingat saat itu aku kebingungan sejak tanggal berapa ya kita mulai berkomitmen? Atau saat kamu bertanya soal tanggal spesial, momen mana yang akan kita pakai tanggalnya untuk kita jadikan tanggal spesial kita dan aku kebingungan untuk menjawab. Sungguh, aku tidak terlalu mengingat tanggal, tapi aku selalu ingat momen spesial saat bersama kamu, Di.

Kencan pertama kita. Aku masih ingat semua detailnya. Sore itu kamu menjemputku, kita pergi ke mall untuk menonton film. Saat itu aku masih terlalu canggumg bahkan untuk melihat matamu. Aneh. Padahal dulu hampir setiap minggu kita pergi bersama dan aku sanggup menatapmu tajam. Ohya, dulu kan kita hanya sebatas teman. Sekarang, kamu orang spesial di hidupku. Setelah kamu selesai memarkirkan mobil, kita turun dan jalan menuju Mall. Aku terkejut, tiba-tiba kamu meraih tanganku, mengeratkan kelima jarimu diantara jari-jari tanganku. Rasanya kaku, canggung, aku tidak bisa menahan senyumku. Sesekali kamu merangkul pundakku, menuntunku berjalan menuju bioskop menyusuri eskalator. Ya Tuhan, aku masih terlalu kaku. Sampai-sampai aku malah lebih memilih fokus membalas chat dari Ari dan Clara. Kita sudah duduk di kursi bioskop, kamu menyodorkan tangan kirimu, kemudian kuletakkan tangan kananku diatasnya. Kamu menggenggam tanganku, sesekali mengelus nya. Aku masih sangat kaku. Bahkan saat diperjalanan pulang kamu menggenggam tanganku di mobil padahal kamu sedang fokus menyetir dan sesekali mengecup punggung tanganku. Senyumku terbit, melihat sikap manismu. Belum lagi saat aku akan beranjak keluar dari mobilmu dan tiba-tiba kamu mencium pipiku. Aku tidak yakin ada kata-kata yang mampu menggambarkan apa yang aku rasakan. Kira-kira seperti ada seribu kupu-kupu di dalam perut dan dadaku, menggelitik dan membuat jantungku berdegup cepat. Manis ya, Di mengingat apa yang telah kita lalui dari awal. Ini hanya sebagian kecil dari momen sederhana yang membuat hubungan kita istimewa. Sisanya, lebih baik kusimpan, dengan cara itu aku bersyukur atas keberadaanmu.

Kamu sempurna dengan kekuranganmu.

Saat awal menjalani hubungan denganmu, aku belum menemui banyak kesulitan selain kamu yang sibuk dengan kegiatan kuliahmu. Aku senang, Di. Kamu aktif berkegiatan sosial, aku senang kamu memiliki banyak teman. Menambah wawasan dan kesempatan. Sampai pada akhirnya kamu benar-benar sibuk dan aku mulai cemburu. Cemburu dengan mereka, teman-temanmu yang setiap hari bisa melihatmu, bertemu kamu dan menghabiskan waktu denganmu. Sedangkan aku dulu, seminggu sekali saja belum tentu bisa bertemu kamu. Aku sadar hidupmu bukan cuma aku, harus kau bagi dengan kuliah dsn keluargamu. Belum lagi kalau kamu sedang tidak mood dan lebih memilih waktu sendiri dirumah. Tak apa, aku tahu kamu lelah dan butuh istirahat. Kuliahmu padat dan jauh, mungkin bertemu keluarga menjadi momen yang sangat berharga. Aku tidak ingin menjadi penggangu. Jadi aku mengalah. Aku benci harus merasakan rindu yang begitu dalam kepadamu, aku benci harus menunggu sampai akhir mingu untuk bertemu kamu. Belum lagi kalau kamu tiba-tiba sedang tidak mood untuk chat. Aku rindu, tapi kadang kamu tidak ada untuk aku. Tapi aku sadar, itulah yang membuat aku perlahan tabah. Menjalani hubungan ini, dengan segala tantangan dan kekuranganmu. Aku tidak punya alasan untuk menyalahkan dirimu, tidak, kamu tidak salah. Kamu dan segala kurangmu membuatmu menjadi pribadi yang utuh. Yang layak untuk kucintai, sebanyak apapun sisi baik dan burukmu. Karena aku tidak perlu alasan untuk mencintai kamu. Kamu cukup menjadi dirimu, aku terima.

Berlanjut ke surat kedua.



Rabu, 20 Mei 2015

Masih kamu





Mengenangmu, sayang, tak bisa kubedakan mana luka dan mana bahagia.
Luka, sembuh sudah sekarang, sepertinya kamulah obatnya.
Bahagia, terburu-buru kah aku? Masih jelas guratan sakitnya.
Pada hujan yang menyanyikan syair bulan februari, air mata ini sepertinya memiliki arti.
Biarkan rintiknya riuh, gemuruh, biarkan ia memecah sepi.
Karena ragamu sungguh hanya ada di mimpi, izinkanlah aku memilikimu dalam sunyi.


Sayang, kamulah kapal yang mengantarku kepada muara kenangan.
Selengkung senyum itu, bisakah kau simpan dulu?
Antarkan aku kembali, pada masa dimana pagi belum sesakit ini
Dan rindu masih menumbuhkan bunga di dada, bukan hampa.


Bolehkah aku merengkuh pagi lebih lama lagi?
Biar mentari memandikanku seperti tadi.
Hangat, seperti matamu yang ku tatap lekat.
Indah, seperti doa tentangmu yang tak henti ku panjat.

Minggu, 10 November 2013

Desember yang Bahagia






Aku ingin menyapa mentari seperti pagi itu
Aku ingin menjadi yang hangat dalam malam mu
Angan tentang rintik hujan dan langkah kali kita
Masihkah ada yang tersisa dari desember yang bahagia?

Kegelapan sesekali harus mengenalmu, iya, kamu yang nyalanya membuat rindu
Jika ada sepercik api rindu di dada, mungkinkah kau sulut sumbunya?
Karena malam hanya tersisa hampa dan dinginnya tanpa ragamu
Akankah rindu yang menyesakkan ini kau jemput pemiliknya?

Kamis, 26 September 2013

Menjenguk Rindu


Sayang, tolong sampaikan terimakasihku pada mentari karena hangatnya telah membangunkan pagi.

Sayang, masih adakah sisa sinar tuamu yang dulu selalu tenggelamkanku pada mimpi-mimpimu?

Sayang, milik siapakah mimpi semalam tadi?

Semalam aku dan kamu berbagi hangat bahagia sepasang kekasih. Dalam mimpi, kau memikul ingatanku.

Sayang, wajah-wajah itu mengingatkanku padamu. Ah, aku sedikit rindu. Sisanya, aku sangat rindu kamu!

Sayang, tulisan ini sungguh tak pernah diam. Bahkan dalam keramaian hatimu, ia berteriak merayu untuk kau jenguk rindunya.


"Dan setelah sinarmu tak lagi bangunkan pagi, mengapa aku masih menyebutmu CINTA?"

Selasa, 23 Juli 2013

Merentang (Pulang)

Baru saja wajah senja hangat menatapku, kemana kau pergi, angin timur?
Tetaplah berhembus disini, bersama sejukan dada dengan lembutmu.
Sebenar benarnya dirimu adalah angin yang membawa rinduku muara ke sungaimu.
Jika malam kau tak tahu dimana tinggal cahaya, didadakulah ia bersemayam.
Dengan segala keresahan atas penantian, tak ada yang lebih muram dari guratan nyala purnama pucat malam.
Waktumu tak sampai satu malam, aku sudah kehabisan ruang pengaduan, untuk rinduku bersemayam.
Pulanglah angin timur, angin pembawa sejuk, milik segala yang rindunya tak pernah mengenal malam.


Jumat, 27 Juli 2012

Adakah yang Hilang?

Air mata sebenar-benarnya adalah ketabahan
Senyuman sebaik-baiknya adalah keikhlasan 
Dan mencintaimu adalah kebahagiaan
Lewat pelukanmu aku belajar ketabahan 
Bahwa sehangat-hangatnya pelukan adalah milik rembulan
Sedang membelaimu adalah kearifan
Selalu ada sesuatu yang disembunyikan
Entah binar matamu yang kini hilang
Ataukah kalbuku yang tak lagi terang?
Tahukah bintang-bintang berkata apa, sayang?
Mereka rindu memandikanmu dibawah cahaya rembulan.