Minggu, 02 Agustus 2015

Surat Terbuka Dariku Untukmu

Surat Pertama.
Teruntuk, Adi Gunawan yang baik. 

Hai, Di. Satu minggu sejak kamu putuskan untuk pergi dariku. Iya, aku tahu baru satu minggu, tapi entah mengapa semua seakan terasa jauh. Kamu, kenangan tentang kita, dan hubungan ini yang jelas sudah ujungnya. Kamu tidak perlu bingung tentang apa yang akan kutulis di surat ini. Kamu tahu kan aku selalu suka menulis? Setidaknya dengan menulis, aku perlahan menyembuhkan batinku.

Masihkah ada kamu?
Di, masih ingat saat dulu kita hanya sebatas teman? Kamu dan aku ada di kelas yang sama selama dua tahun. Menyenangkan bukan mengingat masa SMA? Membayangkannya saja membuat senyumku merekah. Ingatkah saat bahagia kita masih sangat sederhana? Menunggu hingga bel istirahat tiba, kemudian kita berhamburan menuju kantin. Duduk di meja yang sama bersama teman-teman, membeli jajanan yang padahal kita tahu tak menyehatkan tapi tetap kita makan. Oh, atau, saat guru tak ada dan kita berkumpul didepan kelas bercanda dengan teman-teman? Menertawakan lelucon konyol yang dibuat Nurdin, Rizal, Bayu atau Yanwar? Kamu ada di bangkumu, memerhatikan sekitar kelas, kadang tawamu pecah. Ah, aku selalu suka tawamu yang khas itu. Sampai kelulusan, kita masih sekedar teman bukan? Aku tidak pernah menyangka awalnya akan jadi seperti ini, aku akan mencintai kamu sedalam ini dan kita akan ada di suatu hubungan yang buatku instimewa. Membuatku bangga, mengajarkanku banyak hal. Dari bahagia hingga rasa sakitnya.

Di, aku masih ingat bagaimana setelah kuliah kita dan teman teman yang lain kekurangan waktu untuk bertemu. Menanti pertemuan sudah tak semudah saat bell istirahat berbunyi, atau saat bell pulang kita pergi ke La Caffa untuk memesan segelas kopi dan mie unyu yang membuat perut perih! Sederhana ya, sangat berharga, tapi sekarang hanya bisa kita kenang.

Sama seperti hubungan kita, Di. Kita memulainya dengan sederhana, bukan? Saat ku kumpulkan keberanian untuk mengajakmu berkomiten setelah aku menolak permintaanmu untuk kita berpacaran. Berharga, karena aku menjalaninya dengan proses. Bahkan rasa sayangku kepadamu yang tumbuh perlahan seiring berjalannya waktu dan hubungan kita. Aku tidak langsung mencintaimu, di. Aku tidak bisa, tapi aku akan belajar mencintai kamu. Aku yakin aku bisa. Kubuktikan bukan, sekarang? Aku menjalani hubungan ini denganmu, kubiarkan perlahan caramu mencintaiku membuat aku juga mencintaimu, aku perlahan belajar menghargai kamu, usahamu, sampai pada akhirnya saat itu aku tahu kalau cinta sudah bersemi di hatiku. Indah di, saat kamu merawat tanaman, dari bibit terus kau sirami setiap hari, kau rawat, kau biarkan sinar matahari membuatnya tumbuh, perlahan kamu melihat pucuk pertama, dengan sabar menanti hingga menjadi sebatang pohon kecil yang kokoh hinga akhirnya bunga cinta itu tumbuh. Seperti itulah caraku belajar mencintaimu. Mungkin kau tidak tahu bagaimana indahnya menanam benih cinta, menyirami hati dengan kebaikan, meminta tuhan untuk menuntunku menjadi baik untuk diriku sehingga aku bisa jadi baik untukmu dan akhirnya bunga cinta itu tumbuh, mekar, indah di taman kalbuku.
Aku tahu bagaimana indahnya, oleh karena itu aku bersyukur kamu ada dihidupku.

Kita memulainya dengan mudah dan sederhana.

Aku ingat betul bagaimana kita memulai hubungan ini dengan mudah. Saat komunikasi yang kita jalani masih baik, tidak banyak hambatan, kita sama sama meluangkan waktu untuk satu sama lain. Entah untuk sekedar saling menghubungi atau sebuah pertemuan.
9 Desember, 2014. Kencan pertama kita setelah komitmen, bukan? Kamu yang mengingatkanku pada tanggal itu. Aku dulu masih terlalu cuek bahkan untuk mengingat sebuah tanggal spesial. Bagiku dulu, tidak penting sebuah tanggal dalam sebuah hubungan, yang kutahu, saat bertambah bulan, saat itu juga usia hubungan kita bertambah. Sampai pada akhirnya obrolan kita di telepon mengantarkan pada topik itu, tanggal spesial. Aku masih ingat saat itu aku kebingungan sejak tanggal berapa ya kita mulai berkomitmen? Atau saat kamu bertanya soal tanggal spesial, momen mana yang akan kita pakai tanggalnya untuk kita jadikan tanggal spesial kita dan aku kebingungan untuk menjawab. Sungguh, aku tidak terlalu mengingat tanggal, tapi aku selalu ingat momen spesial saat bersama kamu, Di.

Kencan pertama kita. Aku masih ingat semua detailnya. Sore itu kamu menjemputku, kita pergi ke mall untuk menonton film. Saat itu aku masih terlalu canggumg bahkan untuk melihat matamu. Aneh. Padahal dulu hampir setiap minggu kita pergi bersama dan aku sanggup menatapmu tajam. Ohya, dulu kan kita hanya sebatas teman. Sekarang, kamu orang spesial di hidupku. Setelah kamu selesai memarkirkan mobil, kita turun dan jalan menuju Mall. Aku terkejut, tiba-tiba kamu meraih tanganku, mengeratkan kelima jarimu diantara jari-jari tanganku. Rasanya kaku, canggung, aku tidak bisa menahan senyumku. Sesekali kamu merangkul pundakku, menuntunku berjalan menuju bioskop menyusuri eskalator. Ya Tuhan, aku masih terlalu kaku. Sampai-sampai aku malah lebih memilih fokus membalas chat dari Ari dan Clara. Kita sudah duduk di kursi bioskop, kamu menyodorkan tangan kirimu, kemudian kuletakkan tangan kananku diatasnya. Kamu menggenggam tanganku, sesekali mengelus nya. Aku masih sangat kaku. Bahkan saat diperjalanan pulang kamu menggenggam tanganku di mobil padahal kamu sedang fokus menyetir dan sesekali mengecup punggung tanganku. Senyumku terbit, melihat sikap manismu. Belum lagi saat aku akan beranjak keluar dari mobilmu dan tiba-tiba kamu mencium pipiku. Aku tidak yakin ada kata-kata yang mampu menggambarkan apa yang aku rasakan. Kira-kira seperti ada seribu kupu-kupu di dalam perut dan dadaku, menggelitik dan membuat jantungku berdegup cepat. Manis ya, Di mengingat apa yang telah kita lalui dari awal. Ini hanya sebagian kecil dari momen sederhana yang membuat hubungan kita istimewa. Sisanya, lebih baik kusimpan, dengan cara itu aku bersyukur atas keberadaanmu.

Kamu sempurna dengan kekuranganmu.

Saat awal menjalani hubungan denganmu, aku belum menemui banyak kesulitan selain kamu yang sibuk dengan kegiatan kuliahmu. Aku senang, Di. Kamu aktif berkegiatan sosial, aku senang kamu memiliki banyak teman. Menambah wawasan dan kesempatan. Sampai pada akhirnya kamu benar-benar sibuk dan aku mulai cemburu. Cemburu dengan mereka, teman-temanmu yang setiap hari bisa melihatmu, bertemu kamu dan menghabiskan waktu denganmu. Sedangkan aku dulu, seminggu sekali saja belum tentu bisa bertemu kamu. Aku sadar hidupmu bukan cuma aku, harus kau bagi dengan kuliah dsn keluargamu. Belum lagi kalau kamu sedang tidak mood dan lebih memilih waktu sendiri dirumah. Tak apa, aku tahu kamu lelah dan butuh istirahat. Kuliahmu padat dan jauh, mungkin bertemu keluarga menjadi momen yang sangat berharga. Aku tidak ingin menjadi penggangu. Jadi aku mengalah. Aku benci harus merasakan rindu yang begitu dalam kepadamu, aku benci harus menunggu sampai akhir mingu untuk bertemu kamu. Belum lagi kalau kamu tiba-tiba sedang tidak mood untuk chat. Aku rindu, tapi kadang kamu tidak ada untuk aku. Tapi aku sadar, itulah yang membuat aku perlahan tabah. Menjalani hubungan ini, dengan segala tantangan dan kekuranganmu. Aku tidak punya alasan untuk menyalahkan dirimu, tidak, kamu tidak salah. Kamu dan segala kurangmu membuatmu menjadi pribadi yang utuh. Yang layak untuk kucintai, sebanyak apapun sisi baik dan burukmu. Karena aku tidak perlu alasan untuk mencintai kamu. Kamu cukup menjadi dirimu, aku terima.

Berlanjut ke surat kedua.



1 komentar: