Senin, 03 Agustus 2015

Surat Terbuka Dariku Untukmu 2

Surat Kedua

Teruntuk Adi Gunawan terkasih. 

Aku hanya mencoba jujur.

Kalau kamu tanya apa kabarku, aku tidak akan menjawabnya "baik".  Karena bukan itu keadaan yang sebenarnya. Kamu tahu, Di aku tidak baik-baik saja dengan keputusanmu ini. Tujuh bulan, banyak yang kita lalui bersama. Semua masalah, kebahagiaan dan Cinta. Ingatkah masalah terbesar yang pernah kita miliki dulu? Saat aku menemukan satu fakta yang membuatku terkejut juga hancur, membuatmu tak percaya karena kamu tidak menyangka aku akan mengetahuinya. Selama apa kita menyelesaikannya? Hanya satu malam saja, bukan? Satu malam yang penuh dengan tangisku, satu malam yang membuat mata hatiku terbuka, bahwa kenyataan itu tidak perlu menjadi alasan untukku meninggalkanmu. Aku tahu saat itu kamu sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi, mungkin pikirmu aku akan dengan mudah meninggalkanmu? Atau mungkin hal ini bisa ku jadikan alasan untuk pergi darimu? Sayangnya tak terbesit sekalipun di benakku untuk meninggalkanmu. Tidak, tidak semudah itu.

Masih ingat saat kita sama-sama tahu bahwa banyak orang terdekat kita yang ternyata menentang keras hubungan ini? Saat aku tak mendapatkan restu bahkan dari teman terdekatku. Apa itu menjadi penghalang bagiku untuk tetap bertahan denganmu? Apa aku menyerah karena hal itu? Aku mencoba menutup telinga tentang hal buruk yang mungkin beberapa orang katakan tentang kita. Biarlah, itu hak mereka. Bukannya aku tak mau mendengar perkataan mereka, tapi hubungan ini kan punyaku dan kamu. Kita yang menjalani, bukan mereka. Mereka tidak tahu bagaimana sulitnya berjuang, membangun dan mempertahankan hubungan ini yang meskipun akhhirnya harus kandas seperti ini. Sekali lagi, itu tidak menjadi alasanku untuk meninggalkanmu dan menyerah dengan hubungan ini. Aku tidak akan meludahi begitu saja usahaku membangun hubungan ini juga keputusanku untuk memilihmu menjadi pendampingku. Setiapkali aku merasa menyerah denganmu, saat itu juga aku ingat bagaimana aku berjuang untuk membangun hubungan ini, bagaimana caraku pelan-pelan menumbuhkan perasaan cinta untukmu. Setiapkali aku menyerah, aku ingat mengapa aku memulai. Kemudian aku bangkit, aku tidak ingin menyerah begitusaja denganmu.

 Di, percayalah tidak ada masalah yang terlalu besar kalau kita mau menyelesaikan nya dengan komunikasi, bertukar pikiran, mencurahkan perasaan. Kamu tahu kan Di, aku selalu mau mendengar, aku selalu mengajakmu berkomunikasi dengan baik, aku mau belajar memperbaiki. Aku tidak lari dari masalah, aku berusaha memperbaiki. Itulah usahaku untukmu, untuk hubungan kita. Tapi kenapa kemarin kamu lebih memilih mengambil keputusan sendiri? 

Ini bukan perkara sedihku. Kamu tidak perlu membicarakan kesedihanku, seakan kamu tahu apa yang kurasa, apa yang kupikirkan. Biarlah ini menjadi urusanku dengan Tuhan. Adi, diam mu tidak akan menyelesaikan masalah, juga menjawab beribu pertanyaan di benakku yang salahsatunya; apakah benar ini alasan yang sebenarnya? Kalau memang bukan, kumohon katakan apa yang sebenarnya terjadi. Ini bukan perkara sedihku, tapi ini tentang bagaimana kita tetap bisa bertahan di saat tersulit, bahwa kita bisa buktikan kepada Tuhan kalau aku layak untukmu, begitu juga denganmu. Tapi kurasa, kekhawatiran terbesarku sudah terjadi. Saat kita ada di masa sulit tapi kamu lebih memilih diam, tidak menjelaskannya kepadaku, dan akhirnya pergi. Aku bukan pembaca pikiran, dalam sebuah hubungan perlu ada komunikasi, bukan? Kalau memang kamu tetap bulat dengan keputusanmu, baiklah. Aku tidak akan memaksa, setidaknya aku sudah mencoba jujur dengan apa yang aku rasakan. Aku tidak membohongi diriku sendiri, pun aku tidak malu mengakui bahwa semuanya masih tetap sama. Kamu, dihatiku.


Setelah kamu pergi, tidak ada masalah yang terlalu besar bagiku selain kehilanganmu, sekarang.


Kita.

Aku tahu, di. Hari ini akan datang. Hari dimana kamu akan pergi dariku, dan aku harus belajar merelakan. Tapi mungkin ini tak semenyakitkan saat pertamakali kamu meminta untuk mengakhiri hubungan ini. Iya, aku tahu, suatu saat kamu akan pergi lagi mungkin dengan alasan yang sama. Benar saja. Aku masih ingat betapa hancurnya aku saat mendengar kata kata itu darimu. Bahwa katamu, kamu jenuh, rasa sayangmu sudah berkurang dan kamu butuh waktu sendiri. Kamu mau tahu satu fakta? Kamu orang ketiga yang memilih meninggalkan aku dengan alasan yang sama saat itu; "butuh waktu sendiri". Kupikir, kamu akan memberikan alasan lain yang lebih masuk akal atau lebih bisa kuterima dibandingkan alasan-alasan tadi. Tapi tak apa, aku tidak ingin memaksa seseorang untuk tetap tinggal bersamaku, ada hidupku kalau orang itu tidak mau. Sekarang, tidak ada lagi kamu, tak ada lagi pesan singkat darimu, tak ada lagi selamat pagimu yang dengan mudahnya membuat hariku indah menambah semangat membuatku merasa kamu bersamaku pagi itu, tak akan lagi ku terima ucapan selamat malam yang selalu berhasil menerbitkan senyum di bibirku, tak ada lagi pertengkaran kecil karena kesalahpahaman, tak ada lagi pertemuan yang berakhir dengan pelukan. Sekarang hanya ada aku, memeluk semua kenangan di dada, memikul ingatan tentang kita yang dulu pernah ada, tentang cinta yang sederhana. Aku dan kamu, yang dulu pernah menjadi kita.

Merengkuh Anugerah-Nya.

 Ingatkah, di setiap malam setelah kita bertemu, kita kadang menyempatkan untuk sekedar mengobrol beberapa menit atau bahkan jam di dalam mobilmu. Di tempat yang selalu sama. Hanya ada aku dan kamu. Sebelum aku keluar dari mobilmu, kita selalu berbagi peluk. Ya Tuhan, aku selalu suka momen itu. Saat kamu lingarkan tanganmu di punggungku dan menyandarkan kepalamu di pundakku. Aku selalu suka memejamkan mata beberapa detik saat aku peluk kamu, karena akan lebih terasa indah saat aku terpejam sambil mengucap syukur. Ya tuhan, terimakasih kau izinkan aku merengkuh anugerah-Mu sedekat ini. Kadang saat terpejam dan kamu peluk aku, aku ingin lebih lama merasakan dekap hangat tubuhmu, ingin rasanya ku simpan itu dalam genggamanku dan kubawa sampai tidurku. Bahagiaku sederhana, saat bisa merengkuh anugerah-Nya.
 Aku selalu suka saat kita saling mencurahkan isi hati, membahas apa yang perlu diubah dari kita, hal-hal apa saja yang mengganggu satu sama lain, kamu boleh menegurku kalau aku berbuat salah begitu juga denganmu. Aku hanya mencoba terbuka dan menjalani hubungan sebagai orang dewasa denganmu. Pikirku, dengan membiasakan hal itu, akan membuat kita sama sama terbiasa terbuka dengan apa yang kita rasakan. Meringankan beban dengan cara yang sederhana, bercerita. Aku bangga kamu sudah mau terbuka denganku tentang beberapa hal, meskipun kutahu ada beberapa hal yang mungkin kamu simpan sendiri. Ah, aku harap aku bisa membaca pikiranmu, punya kamera di kepalamu jadi aku bisa selalu tahu apa yang terjadi. Tapi aku sadar, aku tidak punya itu semua. Yang aku punya hanya kepercayaan terhadapmu, bahwa kamu akan menjaga diri juga perasaanmu untukku, atau barangkali doa yang kutitipkan pada Tuhan untuk selalu menjagamu. Maaf, aku menulis ini seakan kamu masih denganku.

Aku sadar betul semua orang yang ada di hidupku hanya sementara. Kamu, titipan dari tuhan untukku. Masih jelas tergambar di pikiranku bagaimana dulu setiap malam aku selalu berdoa kepada Tuhan untuk mendatangkan laki-laki yang tepat untukku, yang baik, yang apapun asalkan Tuhan menuntunku. Kemudian datanglah kamu, aku tidak perlu berpikir lama. Aku tahu, kamulah anugerah itu, jawaban dari setiap doaku. Sebagai manusia sudah selayaknya kita menjaga dan mensyukuri anugerah yang Tuhan berikan, begitupun denganku. Aku yang sudah Allah hadiahkan seseorang sebagai pengisi hatiku, pendampingku, yaitu kamu. Aku tidak perlu menceritakan panjang lebar bagaimana caraku mensyukuri keberadaanmu. Cukup aku dan Tuhan yang tahu Ia yang mendengar doaku.

Sekarang kamu sudah pergi, kamu memilih pergi. Mungkin sekarang aku sudah harus mulai mengganti doaku dengan “Tuhan ajarkan aku cara mengikhlaskan” atau “Tuhan, ajarkan aku cara merelakan”. Lagipula, bagaimana lagi caraku membuatmu bertahan? Kalau kamu lebih memilih meninggalkan. Meninggalkan aku sendiri, tanpa kamu, tanpa ada lagi kita dan semua yang telah kita bangun bersama.  Maaf kalau aku egois mencintaimu, maaf kalau aku akan sulit melupakanmu, maaf kalau ini akan terasa sulit untukku karena aku tahu tidak mudah untuk memulainya, jadi wajar bukan, kalau aku sulit untuk mengakhirinya? Maaf kalau semuanya masih tentang kamu, maaf kalau sesekali mungkin aku akan merindukan kamu.


Semoga perpisahan kita tidak sia-sia ya, kalau selama bersamaku kamu samasekali tidak bahagia, maka akan kulanjutkan mencintaimu dengan berdoa; berbahagialah. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar